Dari Mikroskop ke Bioskop: Peran Ilmuwan dalam Media Populer

MicroCurrent Edisi Reguler seputar Industri

Disusun oleh Nabila Azzahra (Archaea’24)

Hai, #MicroFolks! Selain berperan penting di bidang seperti industri, farmasi, pangan, dan kesehatan, apakah #MicroFolks bisa tebak mikrobiologi juga diam-diam berkembang di bidang apa? Yapp, jawabannya adalah bidang perfilman! Lebih tepatnya dalam bidang konsultasi ilmiah, terutama untuk genre science fiction.

Peran Ilmuwan dalam Perkembangan Science Fiction

Ahli patologi Ian Lipkin dalam produksi film Contagion (Barius, 2009)

Genre science fiction sebenarnya telah ada sejak lama dan terus berkembang seiring kemajuan ilmu pengetahuan. Seiring meningkatnya kerumitan konsep sains yang digunakan, semakin banyak tim produksi yang mulai berkonsultasi dengan ahli sains. Hal ini dilakukan agar konsep yang ditampilkan tetap memiliki dasar ilmiah meskipun disesuaikan dengan kebutuhan cerita. 

Salah satu contoh paling awal dan terkenal adalah dalam produksi film 2001: A Space Odyssey. Sutradara Stanley Kubrick bekerja sama dengan Arthur C. Clarke serta berbagai pihak dengan latar belakang sains dan teknologi untuk memastikan akurasi representasi luar angkasa. Kubrick juga melibatkan Graphic Films Corporation, perusahaan yang sebelumnya bekerja untuk NASA, sebagai konsultan teknis sehingga film ini dikenal dengan tingkat realisme ilmiah yang tinggi (Wigley, 2014).

Megaprop centrifuge yang menjadi pesawat luar angkasa dalam set film 2001: A Space Odyssey (Kessel, 1968)

Mikrobiologi… di Hollywood?

Pendekatan serupa juga dilakukan dengan film-film bertema mikrobiologi, seperti Outbreak (1995), yang menceritakan tentang penyebaran virus fiktif Motaba yang memiliki kemiripan dengan Ebola, serta Contagion (2011), yang menampilkan skenario pandemi global berdasarkan prinsip epidemiologi nyata seperti transmisi patogen, karantina, dan pengembangan vaksin. Kedua film ini melibatkan konsultan ilmiah dari berbagai bidang seperti kedokteran, virologi, dan epidemiologi untuk menjaga akurasi ilmiah dalam penggambaran cerita. Bahkan bagi film Contagion, keberhasilan realisme sains membuatnya kembali mendapat perhatian besar pada tahun 2020 saat munculnya pandemi COVID-19, karena dianggap memiliki kemiripan yang kuat dengan kejadian nyata di dunia, hingga disebut “prediksi” terhadap peristiwa yang kemudian benar-benar terjadi hampir satu dekade setelah film tersebut dirilis (Washington Post, 2011).

Karya-karya lain seperti World War Z (2013) dan The Last of Us (2023) juga mengadaptasi konsep biologis seperti parasit dan jamur Cordyceps untuk membangun mekanisme wabah zombie. Dalam World War Z, salah satu konsep yang digunakan adalah pemahaman perilaku patogen dan respons imun, sementara The Last of Us mengeksplorasi kemungkinan spekulatif tentang bagaimana perubahan iklim, khususnya peningkatan suhu global, dapat mendorong evolusi jamur parasit seperti Cordyceps sehingga berpotensi beradaptasi untuk menginfeksi manusia. Kedua konsep ini diperkuat oleh keterlibatan ahli biologi David Hughes, yang memberikan dasar ilmiah terkait bagaimana parasit dapat memengaruhi perilaku inang dan bagaimana skenario evolusi ekstrem tersebut dapat dibayangkan dalam fiksi ilmiah (Lorditch, 2013).

Zombie yang terinfeksi oleh jamur Cordyceps pada set film The Last of Us (Hentscher, 2023)

Pentingnya Keterlibatan Ahli Sains dalam Media Populer

Nah, siapa dari #MicroFolks yang udah nonton Project Hail Mary? Cukup berbeda dari contoh-contoh sebelumnya, film ini menyajikan konsep mikrobiologi ke skala luar angkasa dengan menjadikan organisme fiktif bernama astrophage sebagai ancaman kosmik yang secara perlahan “mengonsumsi” energi matahari. Psst, sedikit spoiler, solusi dari ancaman tersebut juga melibatkan mikroorganisme luar angkasa, loh! Hal tersebut membuat ceritanya tidak hanya menarik bagi bidang mikrobiologi, tetapi juga astrobiologi, sekaligus mengangkat tema harapan yang bergantung pada sains dan riset. Andy Weir, sang penulis cerita, dikenal selalu melakukan riset mendalam serta berkonsultasi dengan berbagai ahli sains dalam membangun konsep cerita (Jaggard, 2015; Pruner, 2026).

Adegan Ryland Grace, diperankan oleh Ryan Gosling, sedang berdiri di tengah triliunan astrophage dalam film Project Hail Mary (Amazon MGM Studios, 2026)

#MicroFolks, pernah kepikiran, nggak sih, kenapa akurasi representasi sains di film itu penting banget? Padahal, itu kan cuma fiksi. Kajian Kirby (2003) tentang peran ilmuwan sebagai konsultan di film menjelaskan bahwa sains dalam media fiksi bukan sekadar soal ketepatan fakta, tetapi juga hasil dari proses kolaborasi antara pembuat film dan ilmuwan. Representasi sains yang akurat di media penting untuk membentuk persepsi publik terhadap sains itu sendiri. Ketika unsur ilmiah dibuat realistis dan logis, penonton akan lebih mudah menganggap sains sebagai sesuatu yang kredibel dan masuk akal. Hal tersebut membantu menjaga kepercayaan publik terhadap proses ilmiah, sekaligus membangun pemahaman bahwa sains di dunia nyata juga bekerja melalui logika, bukti, dan metode yang sistematis, meskipun tetap dibingkai dalam bentuk yang lebih dramatis dan mudah diakses dalam film (Kirby, 2003).

Bagi penulis, menonton Project Hail Mary bersama teman-teman mikrobiologi menjadi pengingat akan pentingnya bidang ini sehingga menyalakan semangat kami untuk terus mempelajari mikrobiologi. Representasi sains yang baik dalam media, seperti film ini, diharapkan dapat menaikkan minat masyarakat terhadap mikrobiologi, sehingga dapat mendorong lahirnya penelitian-penelitian baru yang bermanfaat.

Glosarium

IstilahKeterangan
VirologiCabang ilmu yang mempelajari virus, seperti struktur, interaksinya dengan sel inang, peran virus dalam menyebabkan penyakit, serta cara pencegahan dan penanganannya.
EpidemiologiCabang ilmu yang mempelajari pola penyebaran, faktor penyebab, dan pengendalian penyakit dalam suatu populasi.
PatologiCabang ilmu yang mempelajari perubahan struktur dan fungsi tubuh akibat penyakit, serta mekanisme terjadinya.
PatogenMikroorganisme atau agen biologis yang dapat menyebabkan penyakit pada makhluk hidup.
CordycepsGenus jamur parasit yang menginfeksi serangga dan dapat memanipulasi perilaku inangnya untuk mendukung siklus hidupnya.
AstrophageMikroorganisme luar angkasa fiktif dalam film Project Hail Mary yang mampu menyerap dan menyimpan energi dalam jumlah besar, sehingga menjadi ancaman bagi sumber energi Matahari.
AstrobiologiCabang ilmu yang mempelajari asal-usul, evolusi, dan kemungkinan adanya kehidupan di luar Bumi.

Daftar Pustaka

Wigley, S. (2014, December 3). The letter from Stanley Kubrick that started 2001: A space odyssey. British Film Institute. https://www.bfi.org.uk/features/letter-stanley-kubrick-started-2001-space-odyssey

‘Contagion’ consultants talk about the movie’s scientific accuracy. (2011, September 12). Washington Post. https://www.washingtonpost.com/national/health-science/contagion-consultants-talk-about-the-movies-scientific-accuracy/2011/09/08/gIQAVOkUNK_story.html.

Lorditch, E. (2013, June 20). David Hughes: Zombie Ant Expert and science consultant for “World War Z.” American Institute of Physics. https://www.aip.org/inside-science/david-hughes-zombie-ant-expert-and-science-consultant-for-world-war-z

Jaggard, V. (2015). The Secret of “The Martian” Success? Scientific Peer Review. Smithsonian Magazine. https://www.smithsonianmag.com/science-nature/secret-martian-success-scientific-peer-review-180956745/

Pruner, A. (2026, March 20). “Project Hail Mary” creator Andy Weir just taught me a surprising thing about Sci-Fi. CNET. https://www.cnet.com/culture/entertainment/project-hail-mary-andy-weir-interview/

Kirby, D. A. (2003). Scientists on the set: science consultants and the communication of science in visual fiction. Public Understanding of Science, 12(3), 261–278. https://doi.org/10.1177/0963662503123005

Baca juga artikel lainnya: