Mikroba Zombie: Ancaman Brain-Eating Amoeba di Air Tenang
Disusun oleh Veronica Michelle Lie (Archaea ‘24), Benjamin Hasian Banjarnahor (Archaea’24)
Pernahkah kamu mendengar istilah “still water” yang pernah heboh di media sosial? Still water atau air tenang dianggap sangat berbahaya karena mengandung brain-eating amoeba (amoeba pemakan otak). Lantas, apakah air tenang memang mengandung amoeba pemakan otak yang sangat berbahaya untuk manusia? Mari kita pelajari lebih lanjut!
Air Tenang dan Amoeba Pemakan Otak: Hoax atau Fakta?
Terdapat sebuah miskonsepsi mengenai still water atau air tenang. Air tenang adalah suatu badan air yang tidak bergerak dan tidak terkontaminasi, contohnya seperti air dalam danau yang tenang atau air dalam kemasan botol. Yang sebenarnya diacu oleh orang-orang di sosmed sebagai air tenang yang berbahaya adalah stagnant water atau air stagnan. Berbeda dengan air tenang, air stagnan adalah suatu badan air yang tidak bergerak dan terkontaminasi oleh berbagai mikroba. Jadi, yang sebenarnya berbahaya adalah air stagnan bukan air tenang.
Lantas, apakah amoeba pemakan otak benar-benar ada? Jawabannya, ya. Salah satu mikroba yang hidup di air stagnan adalah Naegleria fowleri. Naegleria fowleri adalah amoeba yang hidup di lingkungan air tawar hangat, seperti danau, sungai, dan kolam dengan kadar klorin rendah, dan biasanya masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran hidung ketika seseorang beraktivitas di air. Julukan “brain-eating amoeba” cukup akurat karena amoeba ini menyerang tubuh dengan memakan sel-sel otak manusia.

Bagaimana Amoeba “Memakan” Otak? Apa efeknya?

Naegleria fowleri akan masuk melalui rongga hidung manusia, menempel pada lapisan lendir, lalu bergerak menuju otak melewati saraf penciuman. Proses ini terjadi sangat cepat dalam hitungan jam hingga beberapa hari. Di sini, amoeba yang telah berada dalam fase tropozoit akan melakukan trogositosis atau memakan sel-sel saraf di otak secara sedikit demi sedikit menggunakan “mulut sementara” bernama amoebastome atau food cup. Bayangkan ketika kamu sedang memakan roti, tapi makannya sobekan demi sobekan. Cara ini sangat merusak karena amoeba tidak hanya memakan satu sel, tetapi terus bergerak dan memangsa banyak sel saraf serta sel otak lainnya secara dinamis.

Selain itu, Naegleria fowleri juga dapat merusak jaringan pada otak dengan melepaskan toksin atau zat beracun berupa excretory–secretory proteins (ESPs), seperti protease dan fosfolipase. Protease adalah enzim pemecah protein yang dapat menghancurkan struktur sel, kolagen, dan bahkan antibodi yang seharusnya melindungi tubuh. Sementara itu, fosfolipase menyerang fosfolipid yang merupakan komponen utama membran sel, sehingga sel-sel menjadi bocor dan rusak. Zat-zat beracun ini merusak membran sel dan protein-protein yang menyusunnya, yang berujung pada demielinasi dan kerusakan jaringan otak. Otak yang awalnya sehat akan berubah seperti spons yang bolong-bolong akibat infeksi Naegleria fowleri.
Semua kerusakan akibat infeksi amoeba ini akan menyebabkan respons peradangan pada otak yang disebut sebagai primary amoebic meningoencephalitis (PAM), sehingga akan terjadi pembengkakan otak akibat penumpukan cairan serebrospinal atau cairan otak. Hal ini menyebabkan pendarahan dan peningkatan tekanan rongga otak yang melebihi batas bahaya. Ketika tekanan terus meningkat, otak yang membengkak akan terdesak keluar melalui lubang di dasar tengkorak dalam proses yang disebut herniasi otak. Herniasi ini menekan batang otak yang mengontrol fungsi vital seperti pernapasan dan detak jantung. Akibatnya, individu yang terinfeksi oleh Naegleria fowleri akan mengalami kematian otak dan meninggal dalam waktu sangat singkat.
Gejala PAM biasanya dapat muncul dalam 1-12 hari setelah paparan dan rata-rata muncul dalam 5 hari. Kondisi awal yang dialami individu yang terinfeksi mirip flu atau meningitis, yaitu sakit kepala, demam tinggi, mual, serta muntah. Dalam 3-5 hari setelahnya, gejala berubah menjadi kaku leher, kejang, kebingungan, dan kehilangan keseimbangan. Tahap akhir ditandai dengan koma dan kematian, yang biasanya terjadi dalam 5-7 hari sejak gejala pertama muncul. Cepatnya perkembangan penyakit ini menjadikan PAM lebih mematikan daripada meningitis biasa.
Terus, Bagaimana Cara Menghindarinya?
Untungnya, infeksi oleh Naegleria fowleri ini sangat jarang terjadi dan dapat dihindari. Walaupun begitu, mengingat dampaknya bisa berakibat fatal, infeksi oleh Naegleria fowleri dapat dicegah dengan :
- Menjaga kepala tetap berada di atas permukaan air dan menghindari berenang di air tawar yang hangat, seperti danau, mata air panas, kolam yang tidak terklorinasi dengan baik, dan air yang tergenang
- Memakai penjepit hidung atau tutup hidung saat berenang di air tawar
- Menghindari masuknya air ke dalam bagian rongga hidung mengingat perannya sebagai jalur infeksi
Dengan memahami bahaya dan cara pencegahan, kita bisa melindungi diri dan orang-orang terdekat dari ancaman amoeba pemakan otak ini.
Glosarium
| Kata – Kata Sulit | Artinya |
| Tropozoit | Tahap aktif dan bergerak dalam siklus hidup beberapa protozoa parasit |
| Amoebastome / Food Cup | Struktur sitoplasma berbentuk mangkuk untuk “memakan” sel |
| Excretory–secretory proteins (ESPs) | Kumpulan protein yang dilepaskan sel atau makhluk hidup untuk memanipulasi kondisi sel inang |
| Demielinasi | Hilangnya lapisan pelindung serabut saraf |
| Cairan serebrospinal | Cairan bening yang melindungi dan memberi nutrisi di otak dan sumsum tulang belakang |
| Herniasi | Penonjolan pada suatu organ sehingga mendorong organ hingga berpindah tempat |
| Meningitis | Peradangan pada selaput pelindung otak oleh infeksi |
Daftar Pustaka
Bhattacharyya, M. (2025, October 8). Naegleria fowleri. In Encyclopaedia Britannica. Britannica. https://www.britannica.com/science/Naegleria-fowleri
Cho, G. (2025, June 18). Should I be worried about still water? Harvard Undergraduate Microbiology Society. Medium. https://medium.com/@harvardmicrosociety/should-i-be-worried-about-still-water-ae5cbed0b616
Güémez, A., & García, E. (2021). Primary amoebic meningoencephalitis by Naegleria Fowleri: Pathogenesis and treatments. Biomolecules, 11(9), 1320. https://doi.org/10.3390/biom11091320
Huang, S., Liang, X., Han, Y., Zhang, Y., Li, X., & Yang, Z. (2021). A pediatric case of primary amoebic meningoencephalitis due to Naegleria fowleri diagnosed by next-generation sequencing of cerebrospinal fluid and blood samples. BMC Infectious Diseases, 21(1). https://doi.org/10.1186/s12879-021-06932-9
Jacobson, R. (2024, February 20). What Happens When an Amoeba “Eats” Your Brain? Scientific American. https://www.scientificamerican.com/article/what-happens-when-an-amoeba-eats-your-brain/
Pervin, N., & Sundareshan, V. (2025, February 16). Naegleria infection and primary amebic meningoencephalitis. StatPearls – NCBI Bookshelf. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK535447/Tang, Y.-W., Hindiyeh, M. Y., Liu, D., Sails, A., Spearman, P., & Zhang, J.-R. (2024). Molecular medical microbiology. Elsevier, Academic Press, an Imprint of Elsevier.
