Part 1: Mikroplastik sebagai Ancaman Serius terhadap Lingkungan dan Kesehatan

MicroCurrent Edisi Special kolaborasi Archaea x HMTL

Disusun oleh Tolibul Ula Sahriya (Teknik Lingkungan’23) & Edrick Matthew Taedas Siregar (Teknik Lingkungan’24)

Definisi Mikroplastik

Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang berasal dari berbagai produk dan kegiatan manusia (Kurniawan et al., 2023). Partikel berukuran mikro inilah yang paling sulit ditangani karena mudah lolos dari sistem pengolahan konvensional. Berdasarkan asal pembentukannya, mikroplastik dibedakan menjadi dua kelompok. Mikroplastik primer adalah partikel yang sejak awal diproduksi dalam ukuran kecil, misalnya butiran pada produk perawatan tubuh, pelet bahan baku industri, dan serat sintetis dari tekstil. Mikroplastik sekunder terbentuk melalui pelapukan plastik berukuran besar akibat paparan sinar ultraviolet, gesekan mekanis, dan reaksi kimia di lingkungan terbuka (X. Liu et al., 2023). Sebagian besar mikroplastik yang masuk ke laut justru berasal dari pelepasan tidak sengaja selama tahap penggunaan produk, terutama serat tekstil dan partikel ban kendaraan (Boucher & Friot, 2017). Pencemaran mikroplastik tidak hanya bersumber dari sampah yang terlihat, tetapi juga dari aktivitas harian yang jarang disadari.

Mikroplastik di laut (Michael Marshall, 2020).

Jalur Pencemaran Mikroplastik

Tingginya pencemaran mikroplastik tidak dapat dipisahkan dari laju produksi plastik global yang terus meningkat setiap saat. Plastics Europe (2024) mencatat bahwa produksi plastik dunia sudah menembus angka 413,8 juta ton pada tahun 2023, dengan sektor kemasan sekali pakai sebagai penyumbang permintaan terbesar. Akibatnya, tekanan terhadap lingkungan ikut meningkat seiring banyaknya plastik yang berakhir di luar sistem pengelolaan formal.

Pelepasan mikroplastik ke lingkungan terjadi melalui beberapa jalur utama. Air limbah domestik membawa serat sintetis hasil pencucian pakaian, sementara limpasan air hujan mengangkut pecahan plastik dari permukaan jalan. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang ada saat ini belum sepenuhnya dirancang untuk menangkap partikel berukuran mikro, di mana efluen IPAL tetap menjadi pintu masuk mikroplastik ke perairan (Tirkey & Upadhyay, 2022). Di Indonesia, Damanik et al. (2024) menemukan mikroplastik dalam jumlah cukup tinggi pada sedimen Muara Sungai Bedahan, Pekalongan, sebuah kota industri dengan aktivitas antropogenik tinggi, yang menunjukkan adanya akumulasi akibat buangan limbah cair dan padat dari hulu. Kondisi ini bermuara pada akar permasalahan yang lebih dalam, yaitu rendahnya tingkat pemilahan sampah di rumah tangga, terbatasnya cakupan layanan persampahan, serta belum konsistennya penerapan kebijakan pengurangan plastik sekali pakai.

Dampak terhadap Lingkungan dan Kesehatan

Akumulasi mikroplastik pada berbagai aspek lingkungan menghasilkan dampak yang berlapis. Sebagai contoh di ekosistem perairan, partikel ini dapat tertelan oleh plankton, ikan, dan organisme dasar perairan, kemudian berpindah melalui rantai makanan dalam proses yang dikenal sebagai bioakumulasi. Contoh lainnya di ekosistem tanah, mikroplastik juga mengubah sifat fisik tanah, dengan mempengaruhi kapasitas retensi air dan mengganggu aktivitas mikroba tanah, sehingga produktivitas pertanian berpotensi menurun dalam jangka panjang (Hanif et al., 2024).

Dampak terhadap kesehatan manusia menjadi perhatian yang semakin serius. Salah satu kekhawatiran dapat dilihat dari penemuan Leslie et al. (2022), yang untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi dan mengidentifikasi empat jenis polimer plastik bermassa produksi tinggi dalam sampel darah manusia, dengan konsentrasi rata-rata mencapai 1,6 μg/ml. Selain itu, paparan kronis terhadap mikroplastik diduga berkaitan dengan berbagai gangguan biologis, mulai dari respons inflamasi hingga gangguan sistem endokrin dan kerusakan sel. Walaupun ambang batas paparan yang aman bagi manusia masih dalam tahap penelitian, temuan ini sudah cukup untuk menempatkan mikroplastik sebagai isu kesehatan publik.

Identifikasi Akar Permasalahan

Akar permasalahan dari pencemaran mikroplastik dapat diidentifikasi dari pemahaman bahwa partikel yang mencemari sungai dan laut hanyalah gejala akhir dari banyak persoalan lainnya yang lebih besar. Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah mengapa partikel plastik dapat sampai ke lingkungan dalam jumlah sebesar itu. Jawaban pertama dapat dilihat dari lemahnya sistem pengelolaan sampah, baik dari sisi pengangkutan, pemilahan, dan pemrosesan akhir. Lemahnya sistem tersebut berakar pada rendahnya partisipasi masyarakat dalam memilah sampah di sumber, di mana hal tersebut disebabkan oleh terbatasnya edukasi dan minimnya insentif yang nyata.

Lebih jauh lagi, persoalan ini juga terhubung dengan struktur kebijakan yang belum mendorong produsen untuk bertanggung jawab atas produk plastik yang dihasilkannya hingga tahap pasca konsumsi. Apabila diamati dari sisi sumber daya manusia, metode pengelolaan, material yang digunakan, dan teknologi yang tersedia, terlihat bahwa keempat aspek tersebut saling mempengaruhi. Rendahnya kesadaran masyarakat berpadu dengan metode pengelolaan yang masih bertumpu pada tempat pembuangan akhir, dominannya material plastik sekali pakai yang sulit didaur ulang, serta terbatasnya teknologi penyaringan mikroplastik pada IPAL. Keterkaitan keempat aspek tersebut menunjukkan bahwa akar permasalahan pencemaran mikroplastik bersifat sistemik sehingga solusi yang hanya menyelesaikan satu titik dalam rantai persoalan berisiko tidak memberikan dampak yang berarti secara keseluruhan, contohnya seperti misalnya edukasi masyarakat tanpa pembenahan teknologi pengolahan, atau sebaliknya. 

Contoh Teknologi IPAL (penguin.id, 2026).

Strategi Pengendalian dan Tindakan

Pengendalian mikroplastik membutuhkan pendekatan yang berlapis dan berkelanjutan. Dari segi teknologi, modifikasi sistem pengolahan air limbah dengan menambahkan teknologi seperti unit koagulasi, membran ultrafiltrasi, dan filter pasir lambat terbukti mampu meningkatkan efisiensi penyisihan partikel berukuran mikro. Sebagai contoh, Teknologi membran terbukti menjadi metode paling efektif untuk penyisihan mikroplastik dari air dan limbah cair, dengan efisiensi jauh lebih tinggi dibandingkan proses koagulasi/flokulasi konvensional (Acarer, 2023). Solusi teknis ini perlu disertakan dengan perbaikan sistem pengelolaan sampah di hulu, terutama melalui penguatan pemilahan dari sumber dan perluasan layanan persampahan ke wilayah pesisir.

Dari segi kebijakan, penerapan prinsip Extended Producer Responsibility (EPR) menjadi salah satu instrumen utama. Instrumen ini dapat diperkuat dengan kebijakan pendukung lain, seperti pelarangan plastik sekali pakai tertentu, pengenaan cukai plastik, serta pemberian insentif bagi material alternatif yang ramah lingkungan. Dari segi sosial, edukasi yang konsisten, pelibatan komunitas dalam pengelolaan sampah, serta pengembangan model bisnis isi ulang turut berperan langsung dalam menurunkan timbulan plastik. 

Upaya pengendalian pencemaran mikroplastik tidak hanya menjadi tanggung jawab kalangan akademisi maupun praktisi di bidang lingkungan saja. Dari tingkat individu, langkah-langkah konkret seperti pengurangan penggunaan plastik sekali dapat berkontribusi secara nyata. Pada tingkat komunitas, partisipasi dalam audit sampah lingkungan dapat memperkuat respons masyarakat terhadap persoalan tersebut. Sementara itu, peran pemerintah dan industri tetap diperlukan untuk membenahi sistem secara menyeluruh, baik dari sisi kebijakan, teknologi pengolahan, maupun inovasi material. Langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten oleh berbagai pihak akan menjadi bagian dari respons bersama yang diperlukan untuk menekan laju pencemaran mikroplastik. 

Glosarium

IstilahKeterangan
MikroplastikPartikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang berasal dari berbagai produk dan kegiatan manusia.
Mikroplastik PrimerPartikel plastik yang sejak awal diproduksi dalam ukuran kecil, misalnya butiran pada produk perawatan tubuh, pelet bahan baku industri, dan serat sintetis dari tekstil.
Mikroplastik SekunderMikroplastik yang terbentuk melalui pelapukan plastik berukuran besar akibat paparan sinar ultraviolet, gesekan mekanis, dan reaksi kimia di lingkungan terbuka.
IPALInstalasi Pengolahan Air Limbah, yaitu fasilitas untuk mengolah air limbah sebelum dibuang ke badan air.
EfluenAir hasil keluaran dari suatu proses pengolahan, dalam konteks ini adalah air yang telah melalui IPAL sebelum dibuang ke perairan.
BioakumulasiProses berpindah dan menumpuknya suatu zat (seperti mikroplastik) dalam tubuh organisme melalui rantai makanan.
Retensi AirKemampuan suatu media, seperti tanah, untuk menahan dan menyimpan air.
InflamasiRespons biologis tubuh berupa peradangan, biasanya sebagai reaksi terhadap zat asing atau cedera.
Gangguan EndokrinGangguan pada sistem hormon tubuh akibat paparan suatu zat kimia atau partikel asing.
EPR (Extended Producer Responsibility)Prinsip tanggung jawab produsen yang diperluas, yaitu kebijakan yang mewajibkan produsen bertanggung jawab atas produk plastik yang dihasilkannya hingga tahap pasca konsumsi.
KoagulasiProses pengolahan air dengan menambahkan bahan kimia untuk menggumpalkan partikel-partikel halus, termasuk mikroplastik, agar lebih mudah dipisahkan.
Membran UltrafiltrasiTeknologi penyaringan menggunakan membran berpori sangat halus untuk memisahkan partikel berukuran mikro dari air atau limbah cair.
Filter Pasir LambatSalah satu unit pengolahan air yang menggunakan media pasir untuk menyaring partikel secara perlahan.
Rantai Nilai (Linear)Alur produksi dan konsumsi material yang bersifat satu arah, dari produksi hingga menjadi residu, tanpa siklus daur ulang yang efektif.
Cukai PlastikPungutan atau pajak yang dikenakan pemerintah terhadap produk plastik tertentu sebagai instrumen kebijakan pengendalian konsumsi plastik.

Daftar Pustaka

Acarer, S. (2023). A review of microplastic removal from water and wastewater by membrane technologies. Water Science & Technology, 88(1), 199–219. https://doi.org/10.2166/wst.2023.186

Boucher, J., & Friot, D. (2017). Primary microplastics in the oceans: A global evaluation of sources. IUCN: International Union for Conservation of Nature, Global Marine and Polar Programme. https://portals.iucn.org/library/sites/library/files/documents/2017-002-En.pdf

Damanik, D. A., Widada, S., & Widiaratih, R. (2024). Analisis konsentrasi dan sebaran mikroplastik di Muara Sungai Bedahan, Wonokerto, Kabupaten Pekalongan. Indonesian Journal of Oceanography, 6(4), 344–356. https://doi.org/10.14710/potensi.%Y.24673

Hanif, M. N., Aijaz, N., Azam, K., Akhtar, M., Laftah, W. A., Babur, M., Abbood, N. K., & Benitez, I. B. (2024). Impact of microplastics on soil (physical and chemical) properties, soil biological properties/soil biota, and response of plants to it: A review. International Journal of Environmental Science and Technology, 21(16), 10277–10318. https://doi.org/10.1007/s13762-024-05656-y

Kurniawan, M. A., Nugroho, S., Adnan, F., & Zulya, F. (2023). Analisis keterkaitan kelimpahan mikroplastik dengan keberadaan sampah plastik di Sungai Mahakam, Kecamatan Muara Kaman. Jurnal Teknologi Lingkungan UNMUL, 7(1), 20–30. https://doi.org/10.30872/jtlunmul.v7i1.10822

Leslie, H. A., van Velzen, M. J. M., Brandsma, S. H., Vethaak, A. D., Garcia-Vallejo, J. J., & Lamoree, M. H. (2022). Discovery and quantification of plastic particle pollution in human blood. Environment International, 163, 107199. https://doi.org/10.1016/j.envint.2022.107199

Liu, X., et al. (2023). Microplastic sources, formation, toxicity and remediation: A review. Environmental Chemistry Letters, 21, 1701–1743. https://doi.org/10.1007/s10311-023-01593-3

Plastics Europe. (2024). Plastics – the fast facts 2024. Plastics Europe AISBL.

Tirkey, A., & Upadhyay, L. S. B. (2022). The fate of microplastics in wastewater treatment plants: An overview of source and remediation technologies. Environmental Technology & Innovation, 28, 102815. https://doi.org/10.1016/j.eti.2022.102815

Baca juga artikel lainnya: