Keberhasilan Inovasi yang Diremehkan: Vaksin dan Penolakannya

Penulis: Veronica Michelle Lie (Archaea‘24)

Tahukah kamu bahwa terdapat satu penyakit menular pada manusia yang telah berhasil diberantas sepenuhnya? Pada tahun 1980, WHO secara resmi mendeklarasikan bahwa cacar (smallpox) telah berhasil diberantas secara global. Keberhasilan ini tidak akan tercapai tanpa program vaksinasi yang intensif. 

Kilas Balik: Dunia Sebelum Adanya Vaksin

Dunia sebelum adanya vaksin merupakan dunia yang sangat berbeda dari dunia yang kita tahu sekarang. Era pravaksin ditandai oleh tingginya angka kematian akibat penyakit yang kini dianggap ringan atau mudah dicegah. Pada masa kini, anak yang dapat bertahan hidup hingga usia lima tahun ke atas merupakan hal yang lazim. Namun, pada masa lalu, keberhasilan seorang anak untuk tumbuh hingga dewasa sering kali dianggap sebagai suatu keajaiban. Data angka kematian anak usia di bawah lima tahun yang dirilis oleh UN IGME menunjukkan bahwa angka kematian tersebut terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Penurunan ini mencerminkan adanya kemajuan signifikan dalam bidang kesehatan. Salah satu penyebab utama dari tingginya angka kematian anak pada masa lalu adalah dampak fatal dari penyakit infeksi sebelum tersedianya vaksin sebagai upaya pencegahan.

Gambar 1. Tren global angka kematian anak usia di bawah lima tahun (1980–2023) (UN IGME, 2025)
Gambar 2. Angka kematian anak usia di bawah lima tahun di Indonesia (1951–2023) (UN IGME, 2025)

Terobosan Mikrobiologi: Terciptanya Vaksin

Pada tahun 1796, Edward Jenner yang dikenal sebagai Bapak Imunologi berhasil menunjukkan bahwa paparan virus cowpox dapat melindungi manusia dari cacar. Jenner menyadari hubungan antara para pemerah susu yang kebal terhadap cacar dan kecenderungan mereka untuk tertular virus cowpox. Temuan inilah yang menjadi dasar pengembangan vaksin, dengan istilah “vaksin” yang berasal dari bahasa Latin vacca yang berarti sapi. Memasuki abad ke-20, pengembangan vaksin mengalami kemajuan yang sangat pesat. Seiring dengan meluasnya penyebaran vaksin, angka kematian akibat penyakit menular, seperti influenza, cacar, polio, dan lainnya, terus mengalami penurunan secara signifikan. Kontribusi vaksinasi terhadap peningkatan kesehatan anak tetap berlaku hingga saat ini. Diperkirakan bahwa vaksinasi telah berhasil menyelamatkan sekitar 154 juta jiwa dalam 50 tahun terakhir, termasuk menurunkan angka kematian bayi setidaknya sebesar 40%.

Mengenal Penolakan Vaksin: Gerakan Antivaksin

“Vaksin dapat menyebabkan autisme,” ujar Robert F. Kennedy Jr. Meskipun menjabat sebagai Menteri Kesehatan dan Layanan Masyarakat Amerika Serikat serta mengklaim bahwa dirinya bukanlah bagian dari gerakan antivaksin, pernyataannya dinilai menyesatkan dan berpotensi membahayakan masyarakat. Oleh karena itu, banyak ahli medis menilai sikap dan klaimnya justru mencerminkan pandangan antivaksin.

Antivaksin adalah sikap atau gerakan yang menolak, meragukan, atau menentang program vaksinasi. Istilah ini kerap disamakan secara keliru dengan vaccine-hesitant. Berbeda dengan antivaksin, vaccine-hesitant merujuk pada individu atau kelompok yang ragu atau menunda vaksinasi karena kekhawatiran terhadap keamanan, efektivitas, atau keterbatasan informasi, tetapi tidak menolak vaksin secara prinsip dan masih dapat menerima vaksinasi melalui edukasi yang tepat.

Penolakan terhadap upaya pencegahan penyakit sebenarnya telah ada jauh sebelum vaksin ditemukan. Variolasi, yaitu metode pencegahan cacar dengan menginfeksikan materi infeksius dalam dosis kecil untuk membentuk kekebalan, telah digunakan sebelum vaksin modern. Meskipun terbukti efektif, praktik ini menuai penolakan keras dari berbagai kelompok. Seiring dengan cepatnya pertukaran informasi di era ini, banyak individu yang semakin menyadari urgensi dari vaksin. Sayangnya, banyak juga individu yang justru termakan informasi-informasi menyesatkan tentang vaksin dan memutuskan untuk menolak program vaksinasi. Pada tahun 2024, data global menunjukkan bahwa terdapat 14,3 juta yang sama sekali belum pernah menerima dosis vaksin apapun

Gambar 3. Kartun terkenal yang disebarkan oleh kelompok antivaksin pada awal tahun 1800-an. Kartun ini menunjukkan orang-orang yang berubah menjadi sapi setelah menerima imunisasi terhadap cacar. (Alamy, n.d.)

Dampak dari Gerakan Antivaksin: Bahayanya bagi Umat Manusia

Dampak dari gerakan antivaksin tidak hanya menimpa kelompok yang menolak vaksin, tetapi juga seluruh masyarakat. Gerakan ini menurunkan herd immunity, yaitu kondisi ketika sebagian besar populasi memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit menular. Penurunan cakupan vaksinasi melemahkan herd immunity sehingga dapat membahayakan kelompok yang tidak dapat menerima vaksin (kelompok yang rentan). Dampak perlindungan vaksin hanya akan optimal ketika sebagian besar populasi telah menerima vaksin. Selain itu, penurunan cakupan vaksinasi juga dapat membuka peluang kembalinya penyakit yang sebelumnya telah jarang ditemukan. Walaupun menolak vaksin seringkali dianggap sebagai keputusan pribadi, konsekuensinya tidak bersifat individual, melainkan komunal, sehingga hal ini perlu mendapat perhatian dan intervensi bersama. Bayangkan jika kita semua kembali dipaksa menjalani hari-hari seperti masa pandemi COVID-19 akibat tingginya tingkat penolakan terhadap vaksin. Rasanya pasti menyiksa, bukan?

Vaksin merupakan terobosan yang berhasil memutarbalikkan keadaan dunia, tetapi keberadaannya justru sering diremehkan. Kenyamanan hidup di masa kini kerap membuat kita lupa akan kengerian era sebelum vaksin tersedia. Oleh karena itu, edukasi mengenai pentingnya vaksin menjadi hal yang krusial. Upaya ini dapat dimulai dari hal sederhana, misalnya dengan meluruskan kekeliruan pemahaman tentang vaksin. Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat, diharapkan penyakit menular lain dapat diberantas sepenuhnya sebagaimana penyakit cacar. 

Glosarium

Kata – Kata SulitArtinya
Virus cowpoxVirus yang menyerang sapi dan manusia, menyebabkan lesi kulit ringan, dan digunakan oleh Edward Jenner sebagai dasar pengembangan vaksin cacar.
Smallpox atau cacarPenyakit menular serius yang disebabkan oleh virus Variola, ditandai dengan demam tinggi dan ruam bernanah di kulit, yang kini telah berhasil diberantas melalui vaksinasi.
Appeal to nature fallacyKesalahan logika yang menganggap sesuatu itu baik, aman, atau benar hanya karena dianggap alami, dan sebaliknya — sesuatu dianggap buruk karena tidak alami — tanpa mempertimbangkan bukti ilmiah atau fakta nyata.

Daftar Pustaka

Case Western Reserve University. (2021, March 22). Vaccine hesitancy: What it is and what it is not. Retrieved December 28, 2025, from https://case.edu/news/vaccine-hesitancy-what-it-and-what-it-is-not

Foran, A.‑M., Jetten, J., & Muldoon, O. T. (2025). Religious group membership and conspiracy beliefs influence vaccine uptake: Insights from 20 European countries. Vaccine. Advance online publication. https://doi.org/10.1016/j.vaccine.2025.127086

Grimes, D. R. (2025, September 5). The strange history of the anti-vaccine movement. BBC Future. Retrieved December 28, 2025, from https://www.bbc.com/future/article/20250905-the-strange-history-of-the-anti-vaccine-movement

Hornsey, M. J. (2021). The psychology of the anti-vaccine movement. The Biochemist, 43(4), 52–54. https://doi.org/10.1042/bio_2021_162

Baca juga artikel lainnya: