World Autoimmune Arthritis Day: Saat Mikrobiota Usus dan Mulut Memicu Perang Autoimun di Sendi

MicroCurrent Edisi Spesial

Hasil kolaborasi Kayla Zahwa Sanipan (Biologi’23) dan Faiqah Suci Vaneria (Mikrobiologi’23)

Nyeri sendi yang berlangsung lama rupanya tidak selalu disebabkan oleh cedera atau faktor fisik lainnya. Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga dapat dipicu oleh gangguan sistem imun akibat ketidakseimbangan mikroorganisme dalam tubuh. Bahkan, mikroorganisme kecil di usus dan rongga mulut ternyata bisa ikut memengaruhi kesehatan sendi kita, #MicroFolks! Lalu, bagaimana prosesnya hingga dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih serius?

Apa yang Terjadi pada Bakteri Usus Sebelum dan Saat Rheumatoid Arthritis Muncul?

Rheumatoid Arthritis (RA) adalah penyakit autoimun kronis ketika sistem imun tubuh justru menyerang jaringan sendi sendiri sehingga menimbulkan peradangan berkepanjangan dan kerusakan tulang rawan secara perlahan. Penyakit ini menyerang sekitar 0.5-1.0% orang dewasa di dunia dan lebih banyak dialami wanita (Yang et al., 2024). Perkembangan RA terbagi menjadi dua fase. Pertama, fase pra-klinis, yaitu saat gejala belum muncul tetapi penanda imun seperti Anti-Citrullinated Protein Antibodies (ACPA) dan Rheumatoid Factor (RF) sudah terdeteksi dalam darah. Kedua, fase klinis, yaitu ketika gejala nyeri, bengkak, dan kekakuan sendi mulai dirasakan secara nyata oleh penderita (Gambar 1) (Abebaw et al., 2025; Lu et al., 2025).

Tahapan perkembangan penyakit RA (Abebaw et al., 2025).

Selain faktor imun, ternyata ketidakseimbangan bakteri dalam saluran pencernaan atau disbiosis mikrobiota usus juga memiliki peran besar dalam perkembangan RA. Sejak fase pra-klinis, bakteri seperti Prevotella copri mulai mendominasi, sementara bakteri baik seperti Bifidobacterium justru menurun. Saat memasuki fase klinis, bakteri yang mendukung terjadinya peradangan seperti Collinsella aerofaciens dan Eggerthella lenta meningkat sehingga memperparah inflamasi dan kerusakan sendi terus berkembang (Yang et al., 2024; Lu et al., 2025). Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan mikrobiota usus nyatanya berperan penting dalam menjaga keseimbangan sistem imun dan mencegah munculnya penyakit autoimun seperti RA, #MicroFolks!

Bagaimana Infeksi Gusi Bisa Memicu Tubuh Menyerang Dirinya Sendiri?

Tidak hanya mikrobiota usus, infeksi bakteri kronis di rongga mulut, khususnya periodontitis, juga diketahui dapat memicu terbentuknya autoantibodi pada RA (Gambar 2). Salah satu bakteri yang paling berperan adalah Porphyromonas gingivalis. Bakteri ini melepaskan enzim proteolitik yang memecah protein menjadi bagian lebih kecil, berupa gingipain, serta Outer Membrane Vesicles (OMV) yang mengandung enzim Porphyromonas Peptidylarginine Deiminase (PPAD), memicu proses sitrulinasi protein tubuh. Ketika mukosa mulut rusak, bakteri masuk ke aliran darah melalui bakteremia, mengaktifkan sel imun seperti monosit dan neutrofil, serta memicu pelepasan interleukin sebagai mediator peradangan (Brewer et al., 2023; Bonilla et al., 2024).

Mekanisme sitrulinasi dan respons imun pada kondisi periodontitis (Bonilla et al., 2024).

Aktivasi neutrofil yang berlebihan ini kemudian mendorong terjadinya NETosis, yakni pelepasan Neutrophil Extracellular Traps (NETs) yang kaya akan protein tersitrulinasi seperti fibrinogen dan α-enolase. Protein-protein tersebut dikenali sebagai zat asing oleh sistem imun dan mendorong produksi ACPA. Nah, di sinilah masalah semakin rumit, #MicroFolks! Melalui mekanisme epitope spreading, antibodi yang awalnya menyerang antigen bakteri perlahan ikut menyerang protein tubuh sendiri. Akibatnya, toleransi imun menghilang dan gejala klinis RA mulai berkembang (Bonilla et al., 2024; Yang et al., 2026).

Bagaimana Zat dari Bakteri Usus ‘Membingungkan’ Sistem Imun dan Menembus Pertahanan Usus?

Disbiosis mikrobiota usus tidak hanya mengubah komposisi bakteri, tetapi juga mengganggu produksi metabolit protektif dan integritas dinding usus. Dalam kondisi sehat, bakteri seperti Faecalibacterium prausnitzii menghasilkan short-chain fatty acids (SCFAs), terutama butirat, yang menekan sel Th17 proinflamasi dan mendorong pembentukan sel T regulator (Treg). Pada pasien RA, kadar SCFAs menurun drastis, memicu dominasi Th17, aktivasi NF-κB, serta melemahnya protein tight junction pada epitel usus sehingga barrier menjadi bocor (leaky gut). Kondisi ini memungkinkan bakteri dan komponen dinding selnya seperti lipopolisakarida (LPS) bertranslokasi ke aliran darah, mengaktifkan sel imun untuk memproduksi autoantibodi ACPA dan sitokin proinflamasi IL-6, IL-1β, serta TNF-α. Secara paralel, mekanisme molecular mimicry memperparah keadaan ini — antigen bakteri yang memiliki kemiripan struktur dengan protein tubuh sendiri mengaktifkan sel T dan sel B autoreaktif secara silang sehingga toleransi imun perlahan runtuh dan autoimunitas berkembang.

Bisakah ‘Paket Mini’ dari Bakteri Menyebarkan Peradangan ke Seluruh Tubuh?

Di luar jalur metabolit dan translokasi bakteri langsung, bakteri patogenik juga melepaskan bacterial extracellular vesicles (bEVs) nanopartikel berlapis membran lipid berdiameter 20–350 nm yang membawa kargo berupa protein, asam nukleat, dan lipid sebagai media komunikasi antar sel. bEVs mampu menembus barier epitel usus, masuk ke sirkulasi sistemik, dan bermigrasi ke organ jauh termasuk sendi. Di sana, kargo peptidoglikan dalam bEVs mengaktifkan fibroblas sinovial melalui Toll-like receptors (TLRs) dan NOD-like receptors (NLRs), memicu pelepasan sitokin proinflamasi dan aktivasi matrix metalloproteinases (MMPs) yang merusak kartilago sendi.Dari rongga mulut, bEVs Porphyromonas gingivalis yang membawa enzim PPAD turut menembus barier mukosa dan memperluas sitrulinasi protein secara sistemik, sementara bEVs Fusobacterium nucleatum dari usus mendorong makrofag sebagai sel imun tubuh untuk beralih menjadi tipe yang memicu peradangan melalui jalur gut-joint axis. Dengan kemampuannya bersirkulasi jauh dari sumber asalnya, bEVs menjadikan inflamasi lokal di usus atau gusi sebagai ancaman sistemik yang berkontribusi langsung pada patogenesis RA.

Glosarium

IstilahKeterangan
SitrulinasiPerubahan kimiawi pada protein tubuh yang membuatnya tampak asing bagi sistem imun sehingga memicu serangan autoimun
GingipainEnzim pemecah protein yang dilepaskan bakteri mulut untuk merusak jaringan gusi dan memicu sitrulinasi.
AutoantibodiAntibodi yang diproduksi sistem imun untuk menyerang sel atau protein tubuhnya sendiri, bukan benda asing dari luar.
Anti-Citrullinated Protein Antibodies (ACPA)Antibodi yang menyerang protein tersitrulinasi dalam tubuh sendiri dan menjadi penanda utama Rheumatoid Arthritis sejak dini
Rheumatoid Factor (RF)Protein yang dihasilkan sistem imun dan ditemukan dalam darah penderita RA yang digunakan sebagai salah satu penanda diagnostik penyakit ini.
Outer Membrane Vesicles (OMV)Kantong kecil yang dilepaskan bakteri sebagai “paket kiriman” enzim berbahaya ke jaringan sekitar dan aliran darah.
Epitope spreadingPerluasan sasaran sistem imun di mana serangan yang semula pada protein asing meluas hingga menyerang protein tubuh sendiri.

Daftar Pustaka

Abebaw, D., Akelew, Y., Adugna, A., Tegegne, B. A., Teffera, Z. H., Belayneh, M., Fenta, A., Selabat, B., Kindie, Y., Baylie, T., Mekuriaw, M. G., Jemal, M., & Atnaf, A. (2025). Immunomodulatory properties of the gut microbiome: diagnostic and therapeutic potential for rheumatoid arthritis. Clinical and Experimental Medicine, 25(1). https://doi.org/10.1007/s10238-025-01777-x

Bonilla, M., Martín-Morales, N., Gálvez-Rueda, R., Raya-Álvarez, E., & Mesa, F. (2024). Impact of Protein Citrullination by Periodontal Pathobionts on Oral and Systemic Health: A Systematic Review of Preclinical and Clinical Studies. Journal of Clinical Medicine, 13(22), 6831. https://doi.org/10.3390/jcm13226831

Brewer, R. C., Lanz, T. V., Hale, C. R., Sepich-Poore, G. D., Martino, C., Swafford, A. D., Carroll, T. S., Kongpachith, S., Blum, L. K., Elliott, S. E., Blachere, N. E., Parveen, S., Fak, J., Yao, V., Troyanskaya, O., Frank, M. O., Bloom, M. S., Jahanbani, S., Gomez, A. M., & Iyer, R. (2023). Oral mucosal breaks trigger anti-citrullinated bacterial and human protein antibody responses in rheumatoid arthritis. Science Translational Medicine, 15(684). https://doi.org/10.1126/scitranslmed.abq8476

Lu, J., Wang, Y., Wu, J., Duan, Y., Zhang, H., & Du, H. (2025). Linking microbial communities to rheumatoid arthritis: focus on gut, oral microbiome and their extracellular vesicles. Frontiers in Immunology, 16. https://doi.org/10.3389/fimmu.2025.1503474

Yang, Y., Hong, Q., Zhang, X., & Liu, Z. (2024). Rheumatoid arthritis and the intestinal microbiome: probiotics as a potential therapy. Frontiers in Immunology, 15. https://doi.org/10.3389/fimmu.2024.1331486

Yang, Y., Wang, G., Song, Y., Ma, J., & Liu, A. (2026). Immunomodulatory effects of oral microbiota in the pathogenesis of rheumatoid arthritis. Frontiers in Immunology, 17. https://doi.org/10.3389/fimmu.2026.1707949

Baca juga artikel lainnya: